Oleh
Ubaidi Abdul Halim
Direktur Jaringan Konservasi Halmahera/Pemerhati Masyarakat Adat
Setiap saat berita bertaburan di ruang public. Kita dituntun menyeleksi lalu lintas informasi dengan cerdas. Membaca, menulis, menonton lalu diunggah. Informasi yang di peroleh adakalanya menginspirasi ada juga yang hoax. Kita mudah berinteraksi dengan banyak orang, memperluas pergaulan, jarak dan waktu bukan masalah. Di media sosial seperti facebook kita sering melihat dan membaca perdebatan dan adu argumentasi yang berujung pada cacian, pujian, makian seolah-olah pikiran kita tak lagi waras sehingga isu-isu besar, aktual dan krusial untuk dibahas mencari jalan keluarnya dengan harapan menghadirkan solusi justru berubah dan tidak produktif.
Jangkauan informasi dapat meledak dan menjadi viral yang kemudian dapat mempengaruhi pendapat publik. Ada orang yang mengunakan facebook sebagai mantra, menyebarkan narasi lalu meraup keuntungan secara ekonomi dengan staup bisnis mereka, adapula yang membangun dan memperkuat branding, dan ada juga membangun narasi-narasi perlawanan dan kritik kepada negara. Para aktivis media sosial akan selalu bergerilya menyuarakan praktek kekuasaan dinasti, kebohongan, ketidakadilan di hutan belatara digital. Guru saya sering mengatakan kepada para aktifis sosial bahwa ada satu keping kenyataan : Orde baru tumbang bukan semata-mata karena aksi massa, orde baru tumbang karena gerilya para aktifis di rimba digital.
Di media sosial, kita perlu cermat memetakan dalam menentukan platform dan target audens. Zaman sekarang, ceramah dan diskusi-diskusi tidak selalu dilaksanakan di ruang-ruang kelas tapi di lakukan tempat yang serba maya. Ide dan gagasan seseorang di tulis, di posting, di sebarkan dan dapat menjangkau jutaan orang. Orang bisa sadar, berubah, atau bergerak lalu mempengaruhi opini, pendapat, hingga menembus jantung kesadaran orang demi melakukan perubahan.
Hujatan, kecaman, dan kebencian senantiasa mewarnai dialog online yang merupakan cerminan rendahnya pola pikir atau kita mengidap kesesatan berpikir. Misalnya Perdebatan Reklamasi Pantai Patani Utara, di Kab Halmahera Tengah, ketika Bupati berkata A maka akan muncul dua kubu yang saling bersiut-siutan, menyerang dan bantahan, satu mendukung peryataan Bupati yang satu pasti menolak. Itulah kenyataan pahit, praktek bermedia di kanal group Facebook Nuansa Halmahera Tengah (NHT)
Tahukah anda revolusi dan perubahan sosial terjadi di sebabkan media sosial? Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Wael Ghonim. Anak muda lahir di Khairo, Mesir, 23 Desember 1980. Ia menjadi figure Internasional penggerak demonstrasi revolusi 2.0 di Mesir. Majalah Time memasukkanya dalam daftar 100 orang yang berpengaruh di dunia pada tahun 2011. Karena kekuatan media sosial, Presiden Mesir Hosni Mubarak mengundurkan diri. Di depan Tahrir Square, ia berorasi membakar semangat ratusan ribu demonstran. Revolusi internet dan revolusi facebook namun setelah melihat orang berkumpul saat ini, maka saya katakan, ini revolusi rakyat mesir, ungkapnya setelah di arak pendukung yang terus menyebut namanya.
Kita memiliki modal teknologi untuk menggerakan jutaan orang di kota-kota besar atau di perdesaan untuk melakukan perubahan sosial. Konten-konten ketidakadilan, perampasan tanah, kriminalisasi petani, kemiskinan, penyusutan hutan dan deforestasi akan terus di suarakan untuk menggerakan batin kita, bahwa teryata di negeri ini masih banyak kekeliruan.
Semua aktifitas digital seperti newgroup, email, website dapat menjadi arena konsolidasi gerakan sosial. Kita dapat mengemas dan melempar isu-isu sosial, lingkungan, ekonomi sebagai gerakan stategis kepada masyarakat luas. Tidak menutup kemungkinan akan muncul sosok seperti Wael Ghanim yang memiliki kemampuan menggerakan jutaan rakyat yang kemudian menjatuhkan kediktatoran presiden Mesir Hosni Mubarak.
Contoh Di Fanpage Forest Watch Indonesia (FWI), Setiap saat meliris data kerusakan dan penyusutan hutan akibat deforestasi dan pelepasan kawasan hutan di Indonesia. Misalnya sepanjang dua dekade tutupan hutan tanah papua menyusut setengah juta hektar (663.443) ha. Puncaknya deforestasi terjadi pada tahun 2015 yang menghilangkan hutan alam 89.881 hektar. Termasuk hutan Kalimantan dan Sumatera yang di konversikan menjadi lahan perkebunan sawit dan pertambangan.
FWI merupakan organisasi jaringan pemantau hutan Independen, yang memiliki kepedulian dan konsisten untuk mewujudkan pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia. Data dan informasi kehutanan ini dapat di jangkau oleh aktivis, akademisi, pemerintah dan media diperoleh dengan cepat dan mudah. Mereka memanfaatkan perangkat teknologi media sosial untuk menyebar pesan secara luas dan makin maju. Data ini menjadi referensi para pihak dalam pengambilan keputusan di level pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.
Di dunia politik tanah air, kerja-kerja teknologi semakin mewabah. Saat pemilu tahun lalu, tim media sosial calon presiden parbowo dan jokowi bekerja di dalam ruangan. Mereka saling “mengadu strategi” dengan menggerakan aktifitas media sosial mereka. Mereka mengendalikan informasi dan memetakan semua percakapan nitizen dan sentiment public, lalu mengelolanya menjadi strategi untuk mengepung semua jenis media sosial. Saya sering menyebutnya berperang, meledakan bom, menabur nuklir gagasan, melalui jalur udara. ***


Komentar
Posting Komentar