saya bukan tak paham, kenapa sih, kamu juga bisa mengerti,” lalu apa masalahnya? Bunga menatap Dilan, kesal. Jika kita datang, itu sama saja kita menunjukan kepada orang lain bahwa kita uda pernah jalan berdua.
Apakah kamu bisa menjamin, kalau di tempat wisata Boki Moruru, tak ada yang mengenal saya. Justru saya akan ketemu dengan teman-teman saya waktu kuliah. Bunga, desa ini tak luas. Ada begitu banyak informasi dan pengetahuan yang di peroleh disana.
![]() |
Bunga, kadang kamu berpikir yang berlebihan. Kenapa sih, tidak bisah santai begitu?” Kamu benar-benar tak mengerti, begitu banyak mata yang memergoki kita, andaikan kita berjalan bersama.
Bunga menatap Dilan dengan gelisah. Apa hubungan dengan mereka? Tak ada yang salah dalam hubungan ini,"katanya. Lalu bagaimana dengan saya? Saya hanya melihat wajahnya, ada kejujuran dan kebebasan yang diutarakan, pemilik gigi taring kelinci ini.
Sesekali Dilan ingin mematapkan diri bersisian dengannya dengan mengunakan kaos oblong berwarna orange. “Karena gaya casual itukah kamu menyukaiku? Di titik ini, aku tenggelam. Ini pertanyaan yang sulit yang pernah ku temui dalam hidup," Kata Dilan. Disaat daun-daun pala berguguran di antara tebing tinggi Goa Boki Moruru. Saat itu, Dilan baru sadar, kalau ini akar masalahnya. Bunga menyentuh jemariku. Dilan gagap, pikiranya melayang kemana-mana.
Bunga lalu, melangkah menuju tepi danau Boki Moruru. Dia berdiri dalam diam disana. Menantang angin menyerbu, pikiranya luluh. Senjah yang begitu jingga, entah kenapa, mendadak terlihat redup.
Ubaidi Abdul Halim
Penulis

Komentar
Posting Komentar