TENAGA KERJA BUKAN MANUSIA Kado Ulang Tahun PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park


Oleh
Ubaidi Abdul Halim
Koordinator Jaringan Konservasi Halmahera



Jangan biarkan nyala lilin padam. Untuk semua yang menepuh jalan juang pekan ini. Untuk seluruh yang berkeringat, meletakkan taruhan nyawa diatas tungku pabrik, untuk setiap yang menyemangati dan bahu-membahu. Rasanya kita telah berusaha menjaga lilin tetap menyala. Menyaksikan apa yang coba kita ikhtiarkan, semoga sahabat-sahabat kita, para pejuang dan para buruh yang mendahului kita, tersenyum disisinya.


Judul di atas,  mungkin sangat relevan untuk menggambarkan situasi terkini masalah buruh di PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park. Tanggal 26 Agustus 2021 kemarin, kita dikejutkan dengan kejadian mengerikan di smelter F, dengan menelan 2 korban, satu meninggal dunia, satu mengalami luka parah dan pata tulang. Empat hari sebelum tanggal 30 Agustus 2021 merupakan HUT IWIP Ke-3 dengan memeriahkan suasana hari ulang tahun dengan setiap hari,kabar duka tenaga kerja meninggal dunia. 


Ancaman kematian, jauh lebih dekat dari urat nadi mereka, para buruh diperhadapkan pada pilihan entah mati kelaparan akibat tidak bekerja atau mati karena digiling alat-alat berat seperti buldoser dan lain-lain sebab mereka terpaksa bekerja tanpa adanya perlindungan dan jaminan keselamatan. Nyawa buruh seakan-akan tak pernah dianggap berharga. 


Contoh kasus lainnya juga pada tanggal 15 Juni 2021 insiden ledakan terjadi di area smelter A, yang menelan korban sebanyak 8 orang, dua meninggal dunia dan 6 orang mengalami luka bakar. Bahkan sebagian buruh yang dirujuk di beberapa rumah sakit di Kota Ternate terlantar, terbaring di ruang ACU berminggu-minggu dan tak  ada penanganan serius atau sentuhan belas kasihan dari perusahaan. Kami mencatat setidaknya 35 peristiwa terkait persoalan buruh. Semuanya merupakan akibat tindakan penyimpangan dan kelalaian dari perusahaan.


Saya melihat rezim pasar kerja sedang menguasai daratan Halmahera dan dugaan saya perusahan memperlakukan tenaga kerja bukan sebagai manusia melainkan binatang hidup penghasil laba demi akumulasi kapital. Perusahan menciptakan upah murah, nihilnya perlindungan, lemahnya pengawasan dan sanksi serta pelemahan serikat pekerja.  


Apa yang di hadapi ribuan tenaga kerja PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park selama ini,  mempertontonkan bagaimana posisi tawar buruh dilemahkan, perundingan antara buruh dan perusahaan tak pernah terjadi, mudah terkena PHK, pemotongan gaji tanpa ada alasan yang jelas, tidak mendapatkan pesangon, rasis, dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh tenaga kerja asal cina serta perlakuan semena-mena lainya.


Dimana peran negara? Dengan kondisi kerja yang tidak aman, lemahnya perlindungan hukum, perampasan tanah, konflik ruang hidup, penghacuran sungai dan seterusnya. Negara sebaiknya mengunakan fungsi melindungi dan pengawasan segenap buruh justru gagal memenuhi ini semua. Negara diam dan terkesan turut menfasilitasi semuanya. 


Kepada kawan-kawan buruh tetaplah siaga dan membekali diri dengan Pendidikan keselamatan. Menagemen perusahan disarankan untuk mengevaluasi aspek Kesehatan dan keselamatan kerja. Sebab buruh kerap kali menghadapi kejadian tak menentu. 


Keselamatan dan kenaikan upah tiap hari harus menjadikan salah satu indikator utama kemajuan ekonomi nasional dan daerah. Sumber masalah utama lemahnya daya tawar buruh adalah sempitnya lapangan pekerjaan. Perluasan lapangan kerja harus di dorong negara dan tak semeta mengadalkan sector swasta, reforma agraria harus dijalankan dengan mendistribusikan kepemilikan tanah korporasi kaya kepada petani. Haluan APBD dan APBN terhadap politik anggaran diubah erientasinya. Era, menjadikan upah murah sebagai daya tarik investasi harus diakhiri. 




Komentar