Oleh
Ubaidi Abdul Halim
Direktur Jaringan Konservasi Halmahera/ Pemerhati masyarakat adat
Di suatu malam hari, seorang pemuda menemui saya di rumah mertua. Dia seorang mantan aktivis mahasiswa dari salah satu Perguruan Tinggi ternama di Yogyakarta. Ia menceritakan seorang sahabat yang kaya raya. Karena terlibat pada dunia politik, ia mala jatuh bangkrut. Bagaimana usaha sahabatnya bangkrut akibat terlibat dalam dunia politik?
Sahabat saya hampir gila bang, katanya. “Jantung saya berdenyut naik-turun” ibarat bermain escalator di hotel berbintang lima. Dia menceritakan modal usaha sahabatnya habis terpakai untuk membiayai salah satu kontestan Bupati di Yogykarta.
Dia di janjikan dengan sesuatu hal yang menurut dia sangat rahasia. Eh.. setelah terpilih sebagai bupati, dia malah “melupakan janji” yang pertama kali di ucapakan di pangung politik. Tak hanya modal tetapi seluruh sumberdaya keuangan dikerahkan untuk mencapai kemenangan waktu itu. Sahabat Saya, berdarah-darah. Membuat agitasi dan propaganda ke desa-desa dengan menyebarkan visi-misi calon bupati sebab beliau dianggap paling terbaik diantara semua.
Sahabat Saya, dan keluarga termasuk basis yang setia dan loyal dari pemilu ke pemilu tetapi dalam perjalanan “diabaikan”. Saya semakin penasaran. Lalu anak mudah ini berkata “ada orang-orang tertentu yang curi star, sambil bertepuk dada tampil seolah-olah sebagai jenderal. Mereka itu, Bupati utamakan dalam setiap kepentingan. Padahal, mereka adalah komunitas yang berseberangan dengan kata lain mereka ini tak menginginkan bupati bisa terpilih.
Dengan nada menyesal, Dia tak puas. Dia berkata, “jika pemilihan Bupati dilaksanakan di tahun akan datang maka saya dan keluarga berpisah dengan Bupati”. Saya semakin penasaran. Anak mudah itu mewakili pandangan banyak orang yang mengalami hal serupa. Mereka para voters yang sama sekali tidak merasakan dampak langsung dari pembangunan, ekonomi, social dan lingkungan. Semua upayanya diangap sia-sia.
Seteleh mendengar ceritanya. Saya juga mengatakan kepada anak mudah ini bahwa saya juga punya pengalaman yang sama. Bagaimana diabaikan ketika mereka terpilih. Sebagaimana janji para politisi sangat mengiurkan, para politisi zaman sekarang apa yang di ucapkan lain yang di buat, semuanya serba hitam-putih dan kita bisa tengelam di tengah derasnya kekuatan janji. Anak mudah ini langsung mengatakan “lebih baik kalah dari pada menang, karena menang juga sama dengan kalah”
Karena asik diskusinya, Saya lalu bertanya bagaimana dengan Halmahera Tengah?
Anak mudah itu, lantas mengatakan di periode akan datang saya dan keluarga belum punya pilihan. Masih mencari mana figure terbaik. Saya dengar adinda dan keluarga mendukung bupati terpilih. Iya, itu benar. Dengan jawaban terbata-bata, sambil menarik napas dalam-dalam. Saya bertanya lagi, bagaimana ada melihat pemeritah sekarang? Di Era sekarang pemerintahnya sangat baik, saya suka program multiyear yang dicanangkan, banyak program yang di eksekusi yakni Gor Fagogoru, Reklamasi Pantai Patani Utara dan Patani, Pemasangan Tower 4G, membangun jalan weda-patani, dan lain-lain. Tapi masih ada saja kekurangan sana-sini. Sambil bergurau, saya bukan Kadis Pekerjaan Umum. Mendengar itu, kami lalu tertawa bersama-sama, hehehe
Saya lanjutkan lagi pertayaan bagaimana adinda melihat kekuatan bupati sekarang? Saya akan berpisah, kok bisa? Karena basis. Basisnya kenapa? mereka sulit memberikan dukungan politik karena bupati diramalkan akan kalah. Sebab basis pemilih, solidaritas tim sukses kemarin dan kantong-kantong suara setia di masa lalu, sebagian besar hancur berantakan.
Saya lalu memberi pengertian”, Itukan asumsi anda saja adinda.
Ia lantas membeberkan beberapa peristiwa politik untuk memperkuat alasanya. Pertama perebutan kursi ketua DPD I Partai Golkar Malut, (bupati kalah) kedua sukses pemilihan umum kepala daerah di beberapa kabupaten (bupati kalah), ketiga pertarungan dan perebutan ketua DPRD Halteng, (bupati kalah) keempat mengabaikan sebagian basis yang loyal dan setia dan kelima pemilu dilaksanakan di tahun 2024 serta yang paling disesali adalah Perda Pengakuan penghormatan masyarakat adat yang tak kunjung di sahkan pemerintah. Beliau menyebutkan Perda masyarakat adat. Itu yang bikin saya kaget, Abang yang mengusung perda itu kan? Lanjutnya. Saya hanya diam. Dalam hati saya, anak mudah ini kok tau ya? Beliau sangat kritis.
Hehehehehe…..Beliau tertawa terbahak-bahak, Anda bisa tau bang, andaikan Tahun 2024 pemilu dilaksanakan maka birokrasi dikedalikan orang lain. Dan tahun itu, bupati kehilangan panggung. Di tahun yang sama, bukan lagi pertarungan mengunakan jabatan sebagai bupati tetapi individu. Saya bertanya lagi maksudnya bagaimana? Kalau pemilu dilaksanakan pada Tahun 2022 maka Bupati akan mengunakan kekuatan birokrasi tapi jika pemilu di laksanakan pada tahun 2024 maka bupati kehilangan momentum. Saya dengar gossip di luar sana katanya Jilid II, masih mungkin. Jawaban anak mudah Itu, “bisa saja terjadi, bisa tidak”. tapi andaikan pemilu di tahun 2024 maka jilid II sulit dilanjutkan. Ramalan saya, 98 % musuh bupati ada dalam lingkaran kekuasaan.
Saya semakin bingung, sambil menelan ludah.
Sebagaimana asumsinya, Jilid II sulit dilanjutkan, sebab bupati di pastikan tak mendapatkan rekomendasi Partai Golkar di pemilu akan datang. Itu terlalu cepat adinda manarik kesimpulan. Ia lalu memberi penjelasan, Lihat konflik dan drama politik perebutan ketua DPD I Partai Golkar tahun lalu. Andaikan bupati memiliki pengaruh besar di tingkat nasional maka tentu ketua DPD I Partai Golkar Malut berada di dalam pelukan bupati.
Saya sebenarnya menginginkan bupati terpilih kedua kali. Kata anak muda itu, Andaikan saya Bupati, saya akan mengembalikan kepercayaan rakyat. Saya terkesima mendengarnya. Malampun semakin larut, kami berdua tengelam dalam suasana diskusi. Karena jarum jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari, ia lalu meminta pamit untuk pulang. Assalamu’alikum bang, walaikum salam.

Cerita terbaik di awal tahun 2020,
BalasHapusCerpennya Bagus Sekali...Sayang Ceritanya Terputus Oleh Waktu dan WaktuLah yang menentukan Segala-Segalanya...Saya Percaya dan HaQuL Yakin Pasti ada Cerita Cerita Pembelajaran yang Dapat Kita Petik HIKMAHnya...Aamiin..Sehat dan Sukses Terus Thor...!!!
BalasHapusLuar biasa Abang.
BalasHapusOpini ini seakan-akan menjadi keterwakilan dari semua pandangan masyarakat Patani. Sebab ada hal-hal perlu kita siapkan dan harus mencari figure yang tetap seperti si mba itu yang katakan..
Mantap ceritanya��
BalasHapus