Sang Pejuang Festival Mtu Mya " mengupas fakta yang tak terlihat"

 Oleh

Ubaidi Abdul Halim

Direktur Jaringan Konservasi Halmahera/Pemerhati Masyarakat Adat


Suara alarm berdering begitu nyaring mengusik tidur saya di hari selasa kemarin sore. Sebenarnya saya engan membuka mata. Namun, akhinya saya buka. Sayapun kaget melihat jam teryata sekarang sudah pukul 5 sore. 


Saya lalu bergegas mandi dan lupa ngopi.  Lalu berangkat menuju Pantai Barahima, yang di rencanakan akan dilaksanakan tempat festival. Sesampainya disana, saya melihat beberapa pemuda mengerjakan rumah Gajebo berbahan rumbia. Saya lalu menemui sala seorang pemuda namanya Ismail.  Ismail mengajak saya berjalan menuju sebuah Gajebo. Kami lalu berdiskusi terkait dengan persiapan-persiapan festival. Saya sekali mengajukan beberapa pertanyaan. 


“Bahan dasar gajebo terbuat dari mana??? dari daun woka dan lantainya dibuat dari sagu hutan” jawab Ismail dengan semangat ia sambil menunjukanya. Sementara pagarnya yang melingkari Gajebo bersumber dari tali rotan. 


warga menyaksikan pembuatan rumah payung rumbia

Antusias masyarakat cukup besar dalam menyambut ivent ini, “saya juga kaget” ketika rapat umum pertama di gelar dengan kehadiran masyarakat, tua, muda, anak, perempuan semuanya. Di situlah spirit kami terbentuk, pintanya.  


Hampir setiap cerita berawal dari “setup” memasang keadaan, dimana masalah datang. Tidak ada konflik, tidak ada cerita tanpa masalah, kemudian ada resolusi. Yang disebut itu, seputar perjuangan mengorganisir masyarakat, edukasi, melawan rintangan suka-duka, termasuk perubahan karakter dan pola pikir. 


Saya terdiam, mendengar ceritanya, nurani saya “basah” ibarat membaca cerita-cerita Hans Chistian Andersen seorang penulis drama asal Denmark,  tentang perjuangan sang pangeran yang terpaksa keluar dari istana, bertarung melawan monster, lalu mencapai kemenangan bersatu Kembali dengan rakyatnya. 


Harapannya, Pulau Mtu Mya dan Pantai Barahima di tetapkan pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah sebagai objek wisata unggulan. Sebab Kawasan ini memiliki tumbuh karang yang indah, sejumlah spesies mangrove dan biota endemik yang jarang ditemukan di tempat lain.


Detail anyaman penutup Gajebo

Kegiatan festival di rancang dengan beberapa bentuk kegiatan yaitu lomba renang, tarian kolosal, Kabata, penanaman mangrove, dan yang paling menanarik adalah ritual adat untuk merefleksikan berjalanan history Barahima secara utuh. 


Enam puluh menit berlalu, haripun semakin sore,  saya mengajaknya menyeruput kopi hangat. Sambil mengatakan  hidup itu perlu dirasakan, selayaknya kamu menikmati secangkir kopi di sore hari. Meski terlihat pekat dan harum, selalu ada pahit diantara itu. 


Iyakan? Hehehehehe. 


Tindakan Ismail dan sahabat-sahabatnya mungkin sederhana dan biasa saja, namun sukses menggugah serta menginspirasi banyak orang di desa. 




Komentar