Oleh
Ubaidi Abdul Halim
Direktur Jaringan Konservasi Halmahera/ Pemerhati Masyarakat Adat
Satu jam berlalu, mataharipun tenggelam. Sementara saya masih mengumpulkan sisa-sisa daging kelapa yang baru saja diperas. Suara jangkrik bergema di sungai mengalir deras diatas tumpukan rasa khawatir pada gelombang ombak pantai Patani Utara. Kebetulan rumah saya dekat pantai, dimana reklamasi sedang berlangsung.
Beri saya waktu satu menit untuk mandi, cepat atau lambat, besok atau lusa tanah itu hanyut terbawa arus. Katanya sambil masuk ke kamar mandi, “saya menelan luda, sambil menatap timbunan reklamasi batu dua diatas swering. Sophia tertawa masam, “dia punya banyak kawan dan orang-orang yang mengambil keuntungan di tengah sisi gelapnya kekuasaan.
Kabar yang saya terima, tapi ini, “off the recond”, pejabat tinggi bintang lima kepolisian, pejabat jaksa serta salah satu orang pejabat di tetapkan jadi tersangka pada kasus pengadaan tanah. “Mungkin pada waktu yang tak terlalu lama akan ada tersangka baru. “Ya Allah Sophia, benarkah? Tunggu saja. Drama ini bakalan seru. Semangat sekali mereka bekerja, seolah-olah tak ada kasus korupsi, terlalu banyak misteri pada kasus ini sejak peringatan pertama.
Saya mandar-mandir di facebook teryata ada yang ngamuk, rusuh. Saling hujat, menuduh, cacian dan makian, Buat apa coba? Konten, gambar, Vidio dan gelombang air laut pantai Patani Utara, warna biru air laut seliweran menghiasi media sosial, ibarat pelangi kuning melingkari bumi di musim hujan. Terlalu banyak kepentingan disini. Terlalu banyak misteri. Seolah ada roh jahat di masa lalu. Ada tuyul yang mengambil seluruh keuntungan.
Ada orang yang membuat skenario menusuk dari belakang pada tahun 2024. Dan itu benar, dan kamu termasuk ahli warisnya.” Anda bisa baca dan melihat arah percakapan digital, pasti mengarah kesana-sini. Buat apa dipikirkan, itu urusan yang bersangkutan katanya, yang penting “ kapalnya yang mereka tumpangi, tak ada navigasi. Mereka berlayar, kehilangan arah bahkan akan tengelam di lautan biru.
Saya lalu menatapnya penuh dalam-dalam, rasa takjub” teryata Sophia masih manis seperti dulu. Dia tak berubah, kenangan itu masih tersimpan.
Malampun tiba, ia lalu menyalakan leptopnya, sambil tersenyum. Teryata dia sedang melihat foto-foto kuliah di masa lalu. “Sambil berbaring, dibalut selimut biru”. Saya pura-pura memasang wajah serius, saya hampir tak bernapas. Dalam hati saya berguman, “saya tak mampu berdayung di air yang deras. Menatapnya, seperti “mengajar badai”.*****


Komentar
Posting Komentar