Kisah legenda Goa Boki Moruru-Putri menghanyutkan diri

Catatan Travelling ke Goa Boki Moruru

oleh
Ubaidi Abdul Halim
Direktur Jaringan Konservasi Halmahera/Pemerhati masalah sosial

Zaman dulu, kisah seorang putri meredam diri dalam sungai Goa Boki Moruru. Kisah ini menitihkan haru. Seorang pemuda memperjuangkan cintanya. Dia diabadikan dalam cerita-cerita hikayat orang-orang di semenanjung Pulau Halmahera bagian Tengah. Dia seperti sungai yang tak henti memberi kesejukan dan kedamaian. 

Diakhir pekan, saya tertarik untuk melihat secara langsung bagaimana indah dan jenihnya air sungai Boki Moruru. Saya ingin menelusuri rekam jejaknya. Di sana saya menemukan imajinasi yang kuat, serta kisah-kisah yang tak biasa.  Di sungai ini, di kisahkan  seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis yang menghanyutkan diri di dalam sungai, Saat itu putri tersenyum.  hati pemuda itu mekar. Lalu putri berenang kembali masuk ke dalam Goa, lalu menghilang. Karena jarak terlalu jauh, pemuda itu gagal menemui putri. 


Dengan rasa penasaran. Ke esokan harinya pemuda ini datang kembali, kali ini, dia tak gagal. saat itu, putri sedang meredamkan diri dalam sungai dengan mata tertutup, pemuda itu dengan lembut langsung mengengam tangannya. Dengan nada terbata-bata, pemuda berucap “Putri raja dari mana engkau berasal, engkau begitu cantik dan jelita” lalu pemuda ini ingin menikahnya.   


Saat sedang memotret, punggung saya dipukul seorang. Saya kaget, menoleh ke belakang, saya melihat seorang gadis, dia seorang dokter. Teman lama waktu sekolah,  dia sangat cantik. Kok nga bilang kalau mau ke sini? Kan kita bisa barengan, satu mobil”katanya sambil cemberut. 

Dia bercerita tentang sejarah Goa Boki Moruru, saat dia mandi, dia berharap bak putri raja, katanya sambil sambil tertawa, hahaha.  


Dengan nada yang “mengoda” saya terkesima dengan gaya cerita, kalimatnya sering melawan arus, ibarat kuatnya deras air sungai Boki Moruru. Hmm dia tamba jernih dan manis. Setelah mengambil gambar, saya lalu, mandi menghanyutkan diri dalam sungai. 


Menatap satu persatu tebing yang tinggi menjulang, sambil berharap tangan saya di genggam oleh tangan putri. 

Komentar